Monitoring dan Pendampingan Inovasi Produk Pangan

(1/10) REJOWINANGUN, Diwilayah RW 05, khususnya di RT 16 dan RT 46 Kelurahan Rejowinangun terdapat suatu usaha inovasi produk pangan " Tempe Kara Pedang", bertempat di RT 46 dilakukan Monitoring dan Pendampingan yang dilakukan oleh Lurah Rejowinangun Ibu Dyah Murniwarini, A.Md, Penggerak Swadaya Masyarakat Kecamatan Kotagede, Ibu Maria Emmaculata Dewi Fajarwati, A.Md, Bhabinkamtibmas, Bpk. Bandang Setiawan, Ketua Kampung Gedong Kuning, Bpk Icok Darmoko dan Ibu Wulan Purwandari, S.STP lurah yang lama ikut menghantarkan program inovasi untuk dilanjutkan pengembangannya ke lurah yang baru.

Kacang koro, seperti dikutip dari biogen.litbang.pertanian.go.id, memiliki kandungan protein 30,36 persen, setara dengan kedelai. Kacang koro kering memiliki kandungan karbohidtrat 66 persen, lemak 2,6 persen. Kacang koro banyak mengandung asam folat sebanyak 358 mikrogram (mcg) sehingga memiliki potensi untuk dapat menggantikan kedelai sebagai tempe atau tahu. Keuntungan lain, harganya cukup murah jika dibanding kedelai.

kacang koro pedang (Canavalia gladiata) memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan karena mudah dibudidayakan dan ditumpangsarikan dengan ubi kayu, jagung, sengon, kopi, kakao, dan lain-lain. Beberapa daerah sudah menggunakan koro pedang sebagai bahan baku tempe, susu, tepung pengganti terigu, dan bungkil sebagai pengganti bungkil kedelai untuk pakan, minyak goreng, dan abon.

Di tengah semakin melambungnya harga kedelai disertai dengan produksi yang semakin berkurang, kacang koro pedang diyakini mampu menjadi bahan komoditas alternatif sebagai pemenuh atau pengganti kedelai, untuk bahan baku tempe dan tahu.

Tempe Koro Pedang yang diproduksi warga RW 05 Kelurahan Rejowinangun sudah dijual dibeberapa pasar di wilayah Kota Yogyakarta, untuk itu perlu didukung oleh setiap pihak dan stakeholder terkait supaya produk inovasi ini dapat memberikan solusi penumbuhan ekonomi ditengah masa pandemi ini. (Ag)